ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

EDISI REVISI

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

(Nativisme, Empirisme, Konvergensi, dan Naturalisme)

OLEH            : NASRULLAH

NIM                : 151 091 016

KELAS           : PAI/III/A

1. NATIVISME

Nativisme (aliran pembawaan) ini dipelopori oleh Schopenhauer. Aliran ini berkeyakinan bahwa anak yang baru lahir membawa bakat, kesanggupan dan sifat-sifat tertentu. Dan inilah yang aktif dan maha  kuasa dalam pertumbuhan dan kemajuan. Pendidikan tidak berpengaruh sama sekali dan tidak berkuasa.[1] Bakat, kesanggupan dan sifat-sifat tersebut bersifat hereditas (keturunan).

Nativisme menolak dengan tegas adanya pengaruh eksternal. Menurut paham ini kalau kita menginginkan manusia menjadi baik, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kedua orang tuanya karena merekalah yang mewariskan faktor-faktor bawaan kepada anak-anaknya. Dengan demikian, nativisme merupakan paham yang mengakui adanya daya-daya asli yang telah terbentuk sejak lahir manusia ke dunia. Daya-data tersebut ada yang dapat tumbuh berkembang sampai pada titik maksimal kemampuan manusia dan yang dapat tumbuh dan berkembang hanya sampai pada titik tertentu sesuai dengan kemampuan individual manusia.[2]

Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan konsepsi ini dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik, maka kemungkinannya adalah besar bahwa anaknya juga akan menjadi ahli musik; kalau ayahnya seorang pelukis, maka anaknya juga akan menjadi pelukis.

Memang hal itu kita dapat benarkan melalui kenyataan-kenyataan yang berlaku. Akan tetapi kita dapat meragukan apakah kesamaan bakat yang ada pada orang tua dengan si anak benar-benar dasar yang dibawa sejak lahir. Sebab jika sekiranya anak seorang ahli musik juga menjadi ahli musik, apakah hal itu benar-benar berakar pada keturunan atau dasar? Apakah tidak mungkin karena tersedianya fasilitas untuk dapat maju dalam bidang musik maka dia lalu menjadi pemusik? Persoalan ini yang tidak bisa dijawab oleh aliran ini. Karena kenyataannya banyak kita lihat orang tuanya adalah orang yang saleh, toh anaknya tidak menjadi soleh seperti orangtuanya bahkan bertolak dari sifat orang tuanya..

2. EMPIRISME

Empire artinya pengalaman. Aliran empirisme merupakan antitesa dari aliran nativisme dan berlawanan 1800 dengan aliran nativisme, yang berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi dewasa itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Pada dasarnya manusia itu bisa dididik apa saja menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Paham ini mengandaikan bahwa pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia ditentukan oleh faktor-faktor pengalaman yang berada diluar diri manusia, baik yang sengaja didesain melalui pendidikan formal maupun pengalaman-pengalaman yang tidak disengaja yang diterima melalui peididikan informal, nonformal dan alam sekitarnya.[3] Apabila manusia mendapatkan pendidikan yang baik, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang bermutu. Sebaliknya, apabila dalam pertumbuhannya ia menerima pendidikan yang buruk, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang buruk. Aliran ini beranggapan bahwa pendidikan layaknya pabrik. Seburuk apapun seseorang, apabila diberikan pendidikan yang baik maka dia akan menjadi baik.

Paham ini berkembang luas di dunia Barat terutama di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, paham ini menjelma dalam aliran behaviorisme, yang dipelopori oleh William James dan Lange. Dan banyak pula berpengaruh terhadap pandangan tokoh pendidikan Barat lainnya seperti Watson, Skinner, Jhon Dewey, dan sebagainya.

Dalam dunia pendidikan, pendapat empirisme dinamakan optimisme paedagogis, karena upaya pendidikan hasilnya sangat optimis dapat mempengaruhi perkembangan anak, sedangkan pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Tokoh aliran ini adalah John Locke (1632-1704), yang memandang bahwa anak yang dilahirkan itu ibaratnya meja lilin putih bersih yang masih kosong belum terisi tulisan apa-apa, karenanya aliran atau teori ini disebut juga Tabularasa, yang berarti meja lilin putih.

3. KONVERGENSI

Kata konvergensi berasal dari kata Convergentie yang berarti penyatuan hasil, kerjasama untuk mencapai satu hasil; atau dari kata Konvergeren yang berarti menuju atau berkumpul pada satu titik pertemuan.[4]

Teori yang lebih dipegangi oleh umum ialah teori konvergensi, yaitu sebuah teori yang mencari jalan tengah dari satu pihak (teori nativisme) yang mengatakan bahwa faktor keturunan yang sangat bergantung dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, dengan pihak yang lainnya (teori empirisme) yang mengetengahkan bahwa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah faktor eksternalnya (lingkungan). Sehingga dalam teori ini mencoba mengasimilasikan kedua teori teresebut dengan mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia itu tergantung dari dua faktor yaitu faktor bakat (pembawaan, hereditas) dan faktor lingkungan (pengalaman, pendidikan). Kedua factor tersebut berproses secara interaksional-dialogis dalam mengembangkan anak kearah perkembangan yang optimal. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh William Stern(1871-1939) dan berkembang di Eropa Daratan (Jerman).

Menurut paham ini, faktor pembawaan sejak lahir saja tidak akan dapat berkembang seoptimal mungkin tanpa dipengaruhi oleh fator lingkungan sekitar yang seapadan. Sebaliknya, faktor lingkungan yang baik tidak akan dapat menghasilkan perkembangan anak yang maksimal, jika faktor dasar yang sesuai tidak terdapat dalam diri anak.

William Stern mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukanlah ia yang menyebabkan perkembangan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai contoh : anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, baru kemudian bercakap-cakap, Dorongan dan bakat itu telah ada, dia meniru suara-suara dari ibunya dan orang disekelilingnya. Ia meniru dan mendengarkan dari kata-kata yang diucapkan kepadanya, bakat dan dorongan itu tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya. Dengan demikian jika tidak ada bantuan suara-suara dari luar atau kata-kata yang di dengarnya tidak mungkin anak tesebut bisa bercakap-cakap.[5]

Perlu kita ketahui bahwa teori ini ternyata mempunyai dasar yang kuat dari pada teori-teori yang lain. Karena dalam kenyataannya kedua faktor itu memang tidak bisa diabaikan. Namun demikian, aliran ini memiliki kelemahan-kelemahan: bahwa Stern tidak dapat menerangkkan berapakah perbandingan pengaruh kedua faktor tesebut. Meskipun demikian, aliran ini sudah merupakan suatu kemajuan yang istimewa.

4. NATURALISME

Natur artinya alam, atau apa yang dibawa sejak lahir. Aliran ini sama dengan aliran nativisme. Naturalisme yang dipelopori oleh Jean Jaquest Rousseau (1712-1778), bependapat bahwa pada hakekatnya semua anak manusia adalah baik pada waktu dilahirkan yaitu dari sejak tangan sang pencipta. Tetapi akhirnya rusak sewaktu berada ditangan manusia, oleh karena Jean Jaquest Rousseau menciptakan konsep pendidikan alam, artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia jangan banyak mencampurinya.[6]

Aliran ini mengikuti adanya pembawaan, tetapi adanya milieu (lingkungan). Maka dalam hal ini terdapat dua pandangan yang berlainan, sehingga menimbulkan dua golongan besar yatu:

  1. Golongan yang dipimpin oleh J.J. Rousseau. Ia menyatakan bahwa manusia pada dasarnya baik.
  2. Golongan yang dipimpin oleh Mensius. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu jahat.[7]

Jean Jaquest Rousseau juga berpendapat bahwa jika anak melakukan pelanggaran terhadap norma-norma, hendaklah orang tua atau pendidik tidak perlu untuk memberikan hukuman, biarlah alam yang menghukumnya. Jika seorang anak bermain pisau, atau bermain api kemudian terbakar atau tersayat tangannya, atau bermain air kemudian ia gatal-gatal atau masuk angin. Ini adalah bentuk hukuman alam. Biarlah anak itu merasakan sendiri akibatnya yang sewajarnya dari perbuatannya itu yang nantinya menjadi insaf dengan sendirinya. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Campur tangan pendidikan yang diberikan orang dewasa malah dapat merusak pembawaan baik anak itu.[8] Manusia dihancurkan oleh suatu proses yang salah, yaitu proses pendidikan yang berlangsung terus menerus di rumah-rumah dan di sekolah-sekolah. Paham ini mengetengahkan tiga prinsip dasar dalam proses belajar mengajar:

  1. Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri, yang berproses secara interaktif antara pengalamannya dengan kemampuan pertumbuhan dari dalam dirinya. Proses tersebut bersifat alami.
  2. Guru atau pendidik berada di luar proses belajar anak didik secara langsung. Guru hanya menyediaka lingkungan belajar. Tanggung jkawab belajar terletak pada diri anak sendiri.
  3. Program pendidikan disekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik. Sekolah hendaknya menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik.[9]

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Hartoto, “Aliran-Aliran Pendidikan”, dalam http://fatamorghana.wordpress.com/2008/07/20/bab-vi-aliran-aliran-pendidikan/, pada tanggal 22 November 2010, pukul 10.15 WITA.

Ilyas, Asnelly. 1997.  Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak dalam Islam. Bandung: Al- Bayan.

Starawaji, “Aliran-Aliran Pendidikan”, dalam   http://starawaji.wordpress.com/2009/05/21/aliran-aliran-pendidikan/, pada tanggal 30 September 2010, pukul 09.32 WITA.

Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Thoib, Ismail. 2009. Wacana Baru Pendidikan: Meretas Filsafat Pendidikan Islam. Mataram: Alam Tara Institute.


[1] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,2001), h. 291.

[2] Ismail Thoib, Wacana Baru Pendidikan: Meretas Filsafat Pendidikan Islam. (Mataram: Alam Tara Institute, 2009), h. 20-21.

[3]Ibid., h. 19.

[4] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Op.Cit., h. 293.

[5] Starawaji, “Aliran-Aliran Pendidikan”, dalam   http://starawaji.wordpress.com/2009/05/21/aliran-aliran-pendidikan/, pada tanggal 30 September 2010, pukul 09.32 WITA.

[6] Asnelly Ilyas, Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak dalam Islam,(Bandung: Al- Bayan, 1997), h. 64.

[7] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Loc.Cit., h. 292.

[8]Ibid.

[9] Ismail Thoib, Loc.Cit., h. 21-22.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s